Tak Berkategori Tampilkan di Slide

Generasi Millenial Memilih Bank

Generasi Millenial Memilih Bank 29 July 2018Leave a comment

Angin bertiup kencang sore itu, meniupi dedaunan di ujung pohon itu. Semakin dingin terasa karena anak-anak sudah tidak ada yang meramaikan lapangan di sudut kampung. Dulu orang tua si Beni masih suka main bola di lapangan. Sekarang, jamannya si Beni, ia lebih suka mojok di rumah, membuka laman facebook, menggerakkan jempol scroll di instagram, atau menekan tombol subscribe di kanal youtube kesukaan mereka.
Beni lebih familiar jika ditanya aplikasi baru di android, ia mengenal gadget, dan sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Era globalisasi pun mempengaruhi pola pikir Beni, ia tidak terikat dan mudah berpindah. Beni berorientasi pada hasil, mempunyai rentang perhatian pendek, kurang sabar dan berjiwa petualang. Dialah Beni, si generasi millenial.
Dari sekitar 260 juta penduduk Indonesia, sepertiganya berada di rentang usia produktif, 15-34 tahun, dan generasi millenial bagian besar dari sepertiga penduduk Indonesia itu. Mereka mendominasi struktur penduduk Indonesia. Lantaran generasi ini mendominasi perekonomian hingga 30 tahun kedepan, bukankan mereka merupakan pasar penting? Termasuk di sektor perbankan juga kan?
Generasi millenial ini mempunyai preferensi berbeda dengan pendahulunya. Jika generasi baby boomers dan generasi Y lebih menyukai tatap muka, genesasi millenial lebih menyukai interaksi online dan menyediakan solusi bersama secara digital. Jika dulu ingin menabung harus antri dulu di customer service, sekarang tinggal datang ke booth ATM setor tunai, dan masuklah uang kita ke rekening. Jika dulu membuka rekening deposito harus ke kantor cabang, kini tinggal pencet-pencet smartphone saja. Dan voila! punyalah anda akun deposito via internet banking. Dengan mobilisasi yang tinggi, generasi millenial lebih banyak menggunakan gadget yang mobile dengan kecepatan internet yang tinggi serta memanfaatkan media sosial.
Lalu bagaimana sikap generasi millenial terhadap perbankan? Bukankan banking is necessary, but bank are not seperti kata Bill Gates? Kids jaman now ini akan dengan mudahnya berpindah bank jika ada tawaran reward yang lebih menarik. Bunga deposito lebih tinggi, cash back saat pembelian barang di toko online, atau diskon lebih besar saat ngopi di kedai kopi kekinian akan membuat kaum millenial ini mencoba bank lain. Begitu mudahnya mereka tergoda, begitu mudahnya mereka berpindah. Sekali lagi, generasi millenial ini tidak terikat dan mudah berpindah.
Agar tetap bertahan dan mampu memenuhi harapan generasi millenial, perbankan harus berbenah. Penyediaan sumberdaya yang menguasai teknologi terbaru penting bagi perbankan untuk mengakomodasi kebutuhan generasi millenial.
Hal paling penting mempersiapkan perbankan digital adalah mengubah gaya kepemimpinan dan DNA perusahaan. Gaya kepemimpinan kaku dan birokratis tidak bisa mengejar kecepatan perubahan teknologi dan perubahan kebutuhan. Karena itu DNA perlu diubah menjadi tangkas dan lincah.
Minimal bank itu harus punya platform digital. Punya akun instagram, akun youtube, dan sederet akun media sosial kekinian lainnya, karena hanya dengan cara itu bank akan dekat dengan generasi millenial.
Bukan tidak mungkin dalam dua atau tiga tahun kedepan, Beni tidak akan pernah ke kantor cabang suatu bank lagi. Beni hanya perlu tekan beberapa tombol di telepon genggamnya saja. Bank dengan fasilitas digital lengkap, mudah diakses dan berbiaya murah-lah yang akan jadi pilihan si Beni. Dunia perbankan, hanya dalam genggaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *